Juandri / PewartaSulut.Id
BOLMONG,
Kerusakan jaringan irigasi Cempaka di Kecamatan Sang Tombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Berdampak serius terhadap aktifitas pertanian warga, akibatnya 600 hektere lahan persawahan terancam gagal tanam dan panen.
Sepeeti inilah kondisi saluran jaringan irigasi cempaka yang terletak di desa Bumbung Kecamatan Sang Tombolang,
Selain rusak parah diakibatkan tidak mampu menampung debit air besar saat hujan, kondisinya nampak tidak terawat dan dangkal menyebabkan aliran tidak sampai ke lahan pertanian warga.
Padahal, daerah irigasi cempaka ini salah satu kebutuhan petani setempat untuk mengaliri sekitar 600 hektare sawah di tiga Desa yakni, Desa Cempaka, Desa Ayong dan Desa Babo.
Namun dengan kerusakan parah ini mengakibatkan para petani terancam gagal tanam dan panen sebab tidak ada lagi pasokan air.
Samsudin salah satu petani menyampaikan,Sudah dua bulan terakhir ini irigasi tersebut tidak lagi berfungsing karna rusak parah akibat debit air telaluh banyak saat musim penghujan.
“irigasi ini mengalami rusak parah sejak dua bulan terakhir ini, kerusakannya diakibatkan oleh debit air terlalu banyak saat musim penghujan, dan pernah kami lakukan perbaikan tapi saat ini tidak ada perhatian dari pemerintah. irigasi ini mengalir kesawah di tiga desa.yaitu desa ayong, desa babo dan desa cempaka kurang lebih 6000 hektare sawah. harusnya ini menjadi perhatian pemerintah kabupten, pemerintah propinsi dan pemerintah pusat sebab ini tumpuan kami hidup dari sumber irigasi ini. dan ini harus segera di perbaiki karena menghadapi musim panas ini dan kami mulai akan mengarap sawah agar bulan agustus bisa panen, namun dengan kondisi saat ini kami terancam gagal tanam apalagi panen” pungkasnya.
Kepala Desa Cempaka mengatakan/ kerusakan irigasi ini sudah terjadi sejak dua bulan terakhir ini, bahkan pemerintah desa sudah berupaya melaporkan kondisi kerusakan irigasi secara berjenjang kepada instansi terkait, namun hingga kini belum diperbaiki.
Bahkan, sebelumnya irigasi sempat diperbaiki saat mengalami kerusakan kecil, namun untuk kerusakan kali ini belum mendapat penangan serius.
“para petani di desa kami sudah mengeluhkan kondisi irigasi yang rusak parah dan putus sejak dua bulan ini. kami juga sudahelaporkan kondisi tersebut ke instansi terkait secara berjenjang namun tidak diperbaiki, seharusnya para petani sudah masuk masa tanam kedua namun karena irigasi rusak parah sehingga petani terancam gagal panen dan tanam” ungkapnya.
Kondisi ini memaksa petani menunda masa tanam karena khawatir mengalami kerugian akibat kekurangan air.
Sehingga itu warga juga berharap pemerintah segera turun tanggan melakukan perbaikan agar distribusi air kembali normal dan aktifitas pertanian dapat berjalan kembali semula.(JP)












