HUT Minsel ke-23, PT KJL Perkuat Hilirisasi Kelapa

banner 468x60

QQ / PewartaSulut.Id

Example 300x600

MINSEL,

Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) menapaki usia ke-23 pada tahun 2026 dengan optimisme baru di tengah tantangan keterbatasan fiskal nasional.

Daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung kelapa di Sulawesi Utara (Sulut) ini terus mengonsolidasikan potensi perkebunan kelapa dan produk turunannya sebagai pilar utama ketahanan ekonomi masyarakat.

Dengan hamparan kebun kelapa yang luas dan produksi yang melimpah, Minsel dinilai memiliki modal kuat untuk bertahan bahkan berkembang, meski dihadapkan pada kebijakan pengetatan dan pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat.

Strategi hilirisasi komoditas kelapa pun menjadi pilihan rasional dan visioner guna menciptakan nilai tambah serta menjaga denyut ekonomi desa.

Keberadaan pabrik-pabrik pengolahan kelapa dan turunannya di wilayah Minsel menjadi faktor krusial dalam menopang kesejahteraan petani.

Salah satu perusahaan yang konsisten mendukung arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Minsel adalah PT Kelapa Jaya Lestari (KJL) yang beroperasi di Desa Kapitu, Kecamatan Amurang Barat.

Manager PT KJL, Yuda, menegaskan bahwa perusahaannya berkomitmen penuh untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mendorong penguatan ekonomi berbasis kelapa, terutama demi meningkatkan kesejahteraan petani.

“Di usia Kabupaten Minsel yang ke-23 ini, kami melihat kelapa bukan sekadar komoditas, tetapi aset strategis daerah. PT Kelapa Jaya Lestari akan terus berdiri bersama pemerintah dan masyarakat petani untuk memastikan kelapa dan produk turunannya benar-benar menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan,” ujar Yuda.

Menurutnya, dengan produksi kelapa Minsel yang sangat besar, tantangan ke depan bukan lagi pada ketersediaan bahan baku, melainkan bagaimana memastikan rantai pasok, harga yang adil, serta optimalisasi pengolahan agar petani tidak hanya menjual bahan mentah.

“Kami berupaya menyerap kelapa petani secara maksimal dan mengolahnya menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah. Dengan begitu, perputaran ekonomi tidak berhenti di kebun, tetapi berlanjut sampai ke industri dan kembali ke masyarakat,” jelasnya.

Yuda juga menilai, penguatan industri kelapa lokal menjadi jawaban konkret atas kondisi fiskal yang kian terbatas. Saat dana pusat mengalami pemangkasan, daerah dituntut mandiri dengan mengoptimalkan potensi unggulannya.

“Ketika dana pusat terbatas, daerah harus bertumpu pada kekuatan sendiri. Kelapa adalah jawaban Minsel. Jika dikelola serius dan berkelanjutan, petani bisa bertahan, industri berjalan, dan ekonomi daerah tetap tumbuh,” tegas Yuda.

Ia berharap, momentum HUT ke-23 Kabupaten Minsel menjadi titik tolak penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani, sehingga sektor perkebunan kelapa benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.

Dengan sinergi yang terus diperkuat, Minsel diyakini mampu menjadikan kelapa bukan hanya simbol daerah, tetapi fondasi nyata kemandirian ekonomi di tengah dinamika nasional yang penuh tantangan. (Qq)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *