Andri / Pewartasulut.Id
BOLMONG,
Kepedulian terhadap dunia pendidikan ditunjukkan seorang mantan Kepala Sekolah (Kepsek) di Desa Mopugad, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara (Sulut).
Demi masa depan anak-anak di desa transmigrasi, ia membangun Sekolah dari nol dengan penuh keterbatasan.
I Nengah Puji S.Ag M.Si, warga desa Mopugad, Kecamatan Dumoga Utara.
Dia bercerita dimana pada tahun 1983, dirinya bersama tokoh masyarakat (Tomas) setempat mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swadharma.
Dedikasi itu dilakukan setelah dirinya menamatkan pendidikan perguruan tinggi sebagai kepala sekolah serta guru olahraga.
“Langkah ini saya lakukan mengingat akses ke SMP bagi anak-anak desa transmigrasi tersebut begitu jauh,” kata Puji di Dumoga, Rabu (04/02/26).
Kata dia, awal pendirian sekolah proses belajar mengajar dilakukan dengan meminjam bangunan sementara milik desa tersebut.
Bahkan saat itu, seluruh kebutuhan sekolah dipenuhi menggunakan dana pribadi serta dukungan dari warga setempat.
Namun, dengan tekad dan kerja kerasnya upaya I Nengah Puji akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah.
Bantuan pembangunan Sekolah pun datang dari Pemerintah Pusat tidak terkecuali bantuan pemerintah daerah, hingga bangunan sekolah dapat berdiri secara permanen.
Meski berstatus sekolah swasta, namun SMP Swadharma Mopugad berkembang cepat dan jumlah siswanya terus bertambah, bahkan bangunan sekolahnya tampak representatif, serta memiliki ciri khas ornamen Bali sejalan dengan mayoritas warga Desa Mopugad yang berasal dari Bali.
Puji mengungkapkan, hal ini juga tak lepas dari dukungan masyarakat ex transmigrasi sehingga pembangunan SMP bisa terwujud.
Ia juga menambahkan, dimana tahun 2006 melalui dukungan warga, desa Mopugad juga bisa memiliki bangunan Sekolah Menengah Atas (SMA). Meski awal kegiatan belajar mengajar dilakukan secara bergantian dalam satu bangunan.
“Kami dipercayakan masyarakat untuk mendirikan SMA, setelah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat dan Provinsi Serta bantuan lainya,sampai bangunan SMA lengkap kemudian para siswa memisahkan ruangan ke ruangan baru,” ungkap mantan Ketua Parisadha Hindu Dharma (PHDI) Desa Mopugad itu.
Rasa senang kemudian dikemukakan salah satu siswa bernama Reyna Putri.
Selain sekolah yang dekat dengan rumahnya, tempatnya dinilai nyaman, serta adanya nilai toleransinya cukup tinggi.
“Sekolahnya bagus dan rama lingkungan juga serta orang-orang sekitar juga baik, kurikulumnya sama seperti sekolah lain,” pungkas Reyna.
Saat ini, I Nengah Puji berencana akan kembali membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar bisa beri pilihan pendidikan bagi lulusan SMP tanpa harus keluar desa.
Dedikasi dan semangat I Nengah Puji menjadi bukti, keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pendidikan yang layak, sejalan dengan program pemerintah dalam pemerataan pendidikan hingga sampai ke pelosok desa transmigrasi.(JP)







