Gelar Pelatihan Dasar, KAMHG Bekali Kader Isu Vandalisme dan Skill SRT

banner 468x60

Redaksi Pewartasulut.Id

MINUT,

Example 300x600

Vandalisme dan persoalan sampah pada jalur pendakian di Sulawesi Utara (Sulut) kini marak terjadi.

Kurangnya kesadaran akan kepedulian lingkungan kemudian memicu aksi tersebut kian terus meningkat.

Teranyar, sejumlah gunung populer di Sulut seperti Klabat dan Soputan kerap ditemukan tumpukan sampah plastik, coretan vandalisme, hingga jalur yang rusak.

Menyikapi hal tersebut, Komunitas Anak Muda Hobi Gunung (KAMHG) terus mendorong, serta memperkuat komitmen konservasi.

Untuk menjawab tantangan itu, Komunitas yang belum lama dibentuk ini menggelar pelatihan dasar tahap satu, dengan tema “Membangun Pendaki Muda Yang Trampil, Tangguh, dan Peduli Lingkungan”.

Kegiatan yang diikuti sebanyak 15 kader ini digelar di Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara, Minggu (26/05/26).

“Pelatihan dasar ini lebih menukik ke isu lingkungan, melihat mirisnya sampah berserakan di puncak. Itu bukan kerja pendaki, itu kerja perusak,” kata Koordinator Divisi Pelatihan & Pendidikan KAMHG, Imanuel Makaraos saat memberi materi.

Menurut Nuel, dalam pelatihan ini para kader diberi pemahaman tentang etika lingkungan, bedah kasus sampah di gunung, teknik minimalisir dampak pendakian, serta pengenalan flora-fauna endemik Sulut yang wajib dilindungi.

Tak hanya itu, konservasi sumber daya alam (KSDA), juga tak kalah penting yakni
single rope technique (SRT) & mountaineering.

Materi ini menyangkut teknik dasar keselamatan di medan vertikal, navigasi darat, manajemen risiko, hingga emergency response.

“Materi ini yang paling krusial, tentu untuk menekan angka kecelakaan gunung yang meningkat dalam kurun waktu 2 tahun terakhir,” terang Nuel.

Sementara itu, Ketua Umum KAMHG Gabriel Watugigir mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk menjawab keprihatinan KAMHG terhadap degradasi lingkungan gunung akibat ulah pendaki tak bertanggung jawab.

Tujuannya kata Gabriel, melalui pelatihan ini mereka bisa menjadi contoh dan memahami cara memperlakukan ataupun menjaga lingkungan gunung.

“Ibaratnya, kalau belum bisa jaga satu bungkus permen, jangan dulu main di alam, percuma jago nanjak kalau turunnya meninggalkan tisu basah dan bungkus mie. Itu namanya pengkhianat alam,” tegas Gabriel didampingi Ketua harian Fhat Mooduto.

Skill SRT dan mountaineering itu tambah Gabriel, untuk selamatkan nyawa, kemudian skill KSDA itu untuk selamatkan alamnya.

“Dua-duanya wajib diketahui agar menjadi referensi saat beraktivitas diatas gunung,” tambahnya.

Selain tentang materi lingkungan lanjut Gabriel, para peserta juga dibekali materi internalisasi sejarah & nilai KAMHG.

KAMHG lahir bukan sekadar komunitas hobi, melainkan gerakan anak muda penjaga alam.

“Ini baru tahap pertama, nanti juga digelar tahap 2 agar peserta lebih paham terkait isu lingkungan,” ungkapnya.

KAMHG jelas dia, adalah organisasi pecinta alam Sulut dan sekitarnya. Sejak berdiri, KAMHG aktif dalam edukasi pendakian aman, kampanye, dan aksi.

“Sejarah KAMHG itu isinya cerita tentang menjaga, bukan merusak. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat menjadi tolak ukur, yang nantinya diimplementasikan bukan hanya kader KAMHG tetapi bagi semua komunitas pecinta alam,” kuncinya.

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *