BOLMONG – Membangun rasa aman di wilayah perbatasan tidak melulu soal penjagaan ketat. Personel Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Sulawesi Utara yang bertugas di pos perbatasan Desa Tonom dan Desa Ibolian, Kabupaten Bolaang Mongondow, memilih cara humanis dengan merangkul anak-anak.
Di sela tugas pengamanan pasca insiden tawuran antar kampung (tarkam), personel Brimob menyempatkan diri membangun kedekatan dengan anak-anak yang bermukim di sekitar pos perbatasan.
Melalui program “Brimob Bersama Anak Indonesia”, para personel hadir dengan senyum dan sapaan hangat. Anak-anak diajak berinteraksi santai agar kembali merasa nyaman dan tidak lagi dibayangi rasa takut akibat konflik yang pernah terjadi.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan pimpinan satuan agar personel di wilayah perbatasan tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga turut melakukan trauma healing bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang rentan terdampak psikologis.
Pendekatan humanis tersebut sejalan dengan harapan Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, agar anak-anak merasa aman, nyaman, dan terlindungi saat bertemu polisi, bukan merasa takut.
Komandan Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Sulut, Kompol I Wayan Wimantara, S.Sos., M.M., menegaskan kehadiran Brimob di tengah masyarakat bukan semata menjaga stabilitas keamanan.
“Kami ingin anak-anak di wilayah perbatasan Tonom dan Ibolian kembali merasa aman dan nyaman. Mereka tidak boleh terus dibayangi rasa takut akibat peristiwa yang pernah terjadi. Karena itu, anggota kami diarahkan untuk hadir dengan pendekatan yang humanis,” ujar Kompol Wayan.
Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus di lingkungan yang pernah mengalami konflik sosial.
“Melalui kegiatan ‘Brimob Bersama Anak Indonesia’, kami ingin menanamkan keyakinan kepada anak-anak bahwa polisi adalah sahabat yang siap melindungi mereka. Kami berharap rasa takut mereka perlahan berkurang dan mereka dapat kembali beraktivitas, bermain, serta belajar dengan tenang,” lanjutnya.
Ia menambahkan, situasi aman dan kondusif tidak cukup hanya dengan kehadiran personel di lapangan, tetapi juga memerlukan pendekatan persuasif dan kepedulian sosial.
Kebersamaan personel Brimob dan anak-anak di pos perbatasan Tonom-Ibolian menjadi bukti bahwa di balik seragam dan tanggung jawab pengamanan, ada sisi kemanusiaan yang kuat untuk memastikan generasi muda tumbuh dalam suasana yang aman.(**)












